DJ Aceh yang Populer di Ibukota

Jumat, 21 Juli 2017 | Dilihat: 383 kali

SERAMBITV.COM, BANDA ACEH – Nama Danger Dope mungkin masih asing di kalangan kawula muda Aceh. Namun tidak bagi penikmat musik hip hop. Danger Dope atau yang akrab disapa Rencong adalah DJ hip hop pertama dan satu-satunya di Aceh. Berawal dari hobi sebagai penggebuk drum, Rencong muda kemudian hijrah ke ibukota dan coba-coba menjadi DJ. Tak berhenti sampai di situ, lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu kini menjadi populer di ibukota sebagai DJ sekaligus beatmaker.

“Jadi ceritanya dari Aceh susah bawa drum karena di sana (Jakarta) ngekost, ya udah jadinya milih DJ aja. Awalnya tahun 2003 aku masih pakai walkman. Aku hobi kumpulin barang-barang bekas yang kemudian ku modifikasi sehingga menghasilkan bunyi-bunyian baru,” ujar Rencong (35) membuka cerita saat dijumpai di cafe miliknya Motown Coffe di Kawasan Lampineung, Banda Aceh, Kamis (15/6).

Kemahiran bermain piringan hitam ditambah kreativitas dalam mengaransemen musik sehingga melahirkan new version. Di tangan Rencong, musik lawas zona 80-an terasa lebih masa kini, pun sebaliknya. Berawal dari ibukota, sebagai DJ jam terbangnya sudah merambah hingga panggung dunia.

Di Aceh sendiri, nama Rencong gaungnya bahkan masih samar-samar terdengar. Menurut pria kelahiran Banda Aceh, 27 November 1982 silam itu, faktor budaya juga mempengaruhi dan memberi warna bagi musik itu sendiri. Berawal dari ibukota, tahun 2005 ia bersama teman-teman kampusnya menggeluti hip hop yang melahirkan DJ, rapper, grafiti, dan breakdance. Sementara di tanah kelahirannya, Aceh, musik hip hop baru menunjukkan geliatnya pada tahun 2012. HipHop NAD Syndicate (HNS) menjadi cikal bakal yang menandai kehadiran musik yang diperkenalkan oleh kaum afro amerika di tanah rencong.

“Kalau orang-orang kulit hitam kan menyuarakan demo lewat musik hip hop, mungkin kalau cara itu (demo) ditangkap, jadi demonya pakai musik dan bisa dinikmati. Tapi di Aceh tidak ada, jadi liriknya banyak spontan aja,” beber Rencong.

Rencong mengaku tak terlalu menyukai kompetisi sehingga tak berminat mengikuti perlombaan. Baginya bermusik lebih ke penyaluran hobi dan sarana bersenang-senang. Pria yang dalam waktu dekat diundang mengisi acara ke Columbia ini, mengaku melirik musik hip hop karena aliran musiknya yang kaya serta kemudahan musik untuk di recycle dan dikemas dalam versi baru.

“Bermusik itu tidak dibatasi usia. Jadi terserah orangnya mau sekedar gaya-gayaan sewaktu muda atau emang suka. Istilahnya kalo Bahasa Aceh-nya ‘na gob na tanyoe’ (ada orang ada kita). Karena seumuran aku mungkin malu dibilang hip hop, kalau aku biasa masih pake baju kaos, cari uang nggak harus jadi PNS kan,” imbuh Rencong menutup obrolan. (rul)

Narator: Ardiansyah
Editor: Hari Mahardhika

Komentar