Kisah Pencari Pucuk Nipah di Sarang Buaya Aceh Singkil, Diupahi Rp 150 Untuk Setiap Kilogramya

Kamis, 12 September 2019 | Dilihat: 103 kali

SERAMBITV.COM, SINGKIL – Sabetan golok dalam genggaman tangan kiri perempuan paruh baya itu, bergerak cepat menebas daun nipah muda terpisah dari pelepahnya.

Nia nama perempuan asal Desa Suka Makmur, Kecamatan Singkil, Aceh Singkil, tersebut.

Sehari-hari bekerja sebagai tukang cincang pucuk nipah yang diambil kaum lelaki dari Singkil Lama, tempat buaya bersarang.

Keringat memenuhi wajahnya. Tapi ia masih terus mengejar target mendapatkan seikat lagi cincangan nipah.

Cincang merupakan istilah untuk pekerjaan memotong daun nipah agar terpisah dengan pelepahnya. Umumnya pekerjaan itu dilakukan ibu rumah tangga demi membantu suami menutupi kebutuhan keluarga.

Setiap satu kilogram daun nipah muda yang dicincang Nia diupahi Rp 150.

Pucuk nipah yang telah dicincang diikat lalu dijual kepada pengepul selanjunya dikirim ke Sumatera Utara.

Puncuk nipah sejauh ini digunakan sebagai bungkus tembako. Dengan istilah rokok pucuk.

Pencari pucuk nipah yang dicincang Nia adalah Suwardi. Menjelang petang laki-laki berbadan tegap itu baru pulang mengambil daun nipah muda dari dekat muara sungai Singkil Lama.

Bukan hanya berotot kuat, mencari nipah di hutan rawa butuh nyali. Singkil Lama dikenal sebagai sarang buaya.

Seharian Suwardi dan temannya bisa mengumpulkan hasil cincangan daun nipah muda sekitar 500 kilogram.

Hari sudah beranjak malam, Suwardi masih harus memindahkan tumpukan pelepah nipah muda dari perahu ke daratan. Agar esok kaum perempuan bisa bekerja menyincangnya.

Narator: Ardiansyah
Editor: Reza Munawir