Melestarikan Kriya Nusantara Lewat Secarik Batik

Selasa, 9 Oktober 2018 | Dilihat: 30 kali

SERAMBITV.COM, BANDA ACEH– Aroma malam (lilin batik) menelusup di udara. Menguarkan hawa panas lewat api yang menjilat-jilat wajan di atas kompor. Jari jemari itu mencelupkan canting dan cap ke dalam cairan cokelat pekat. Untuk kemudian menorehkannya di atas sehelai kain. Melestarikan kriya nusantara lewat secarik batik.

Seperti halnya Indonesia belahan lain. Aceh juga mempunyai batik khas yang merupakan kekayaan budaya daerah. Sebut saja motif yang paling populer yaitu pinto Aceh, pucok rebong, dan motif rencong. ‘Rumoh Batik Aceh’ di bawah Dewan Kesenian Daerah (Dekranasda) mempercayakan Oliya M (65) pria asal Cirebon, Jawa Barat untuk mengkoordinir 13 pengrajin. Kesabaran menjadi modal utama bagi pengrajin batik.

Di sini, batik dikerjakan dengan dua teknik yaitu batik cap dan batik tulis. Masing-masing menghasilkan ciri khas yang berbeda.

Batik cap menggunakan besi bermotif yang pengerjaannya dilakukan dengan cara ditempelkan ke kain. Sedangkan batik tulis menggunakan gambar yang dilukis di atas kertas, untuk kemudian polanya dipindahkan ke kain dengan bantuan canting.

Selain cuaca, lamanya proses pembuatan tergantung pada jumlah warna yang digunakan, jenis kain, dan teknik pembuatan. Inilah yang membedakan kualitas batik. Untuk membawa pulang sehelai kain batik di sini,  pembeli harus merogoh kocek mulai dari Rp 200 ribu – Rp 800 ribu. Usaha Dekranasda mempromosikan batik Aceh membuat usaha kreatif ini mulai bergaung.

Batik mempunyai sejarah panjang di Indonesia. Euforia batik telah mencapai puncak klimaksnya tatkala dikokohkan sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO pada 2009 silam. Batik adalah ekspresi budaya sekaligus seni mahakarya Indonesia.

Narator: nurul hayati
Editor: RA Karamullah