Kisah Heroik Orang Aceh yang Berperang Melawan Angkatan Laut Amerika

Jumat, 6 April 2018 | Dilihat: 1,490 kali

SERAMBITV.COM, BLANGPIDIE – Kuala Batu yang kini menjadi bagian dari Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), adalah salah satu wilayah yang menyimpan sejarah kejayaan, sekaligus kepahlawanan orang-orang Aceh dahulu.

Kerajaan Kuala Batu yang berkuasa sekitar tahun 1785 – 1832 Masehi, kini masuk dalam wilayah Kecamatan Kuala Batee yang berbatasan dengan Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya.

Meski memiliki wilayah yang kecil, namun nama Kuala Batu pernah membuat geger Amerika Serikat pada tahun 1832, saat beberapa anak buah kapal kargo asal Amerika dibantai oleh penduduk di wilayah ini.

Presiden Amerika Serikat kala itu, Andrew Jackson sampai mengirimkan kapal perang USS Potomac di bawah Komodor John Downes untuk menghukum penduduk Kuala Batee atas kejadian itu.

Peristiwa ini sekaligus menjadi awal dari berakhirnya kekuasaan Kerajaan Kuala Batu, yang dulu terkenal sebagai penghasil rempah-rempah, terbaik di Pulau Sumatera.

Pertempuran hebat antara Angkatan Laut Amerika Serikat dengan prajurit dan penduduk Kerajaan Kuala Batu ini tercatat dalam sejumlah risalah dan buku-buku yang ditulis oleh sejarawan Amerika maupun Eropa.

Di antaranya dalam buku berjudul “The scents of Eden: a history of the spice trade” yang ditulis oleh Charles Corn (1999).
“Thence round Cape Horn” karya Robert Erwin Johnson, (1980), “American lion: Andrew Jackson in the White House” karya Jon Meacham (2008), serta “Cruise of the United States frigate Potomac round the world: during the years 1831-34,” yang ditulis oleh Francis Warriner (1835).

Selain catatan di buku, di Kuala Batee juga masih tersisa sejumlah bukti yang mengarahkan kepada eksistensi Kerajaan Kuala Batu pada masa lalu, serta bukti adanya pertempuran antara Angkatan Laut Amerika Serikat dengan prajurit kerajaan dan penduduk Kuala Batu.

Di antara bukti itu terlihat dari prasasti berbahasa Inggris yang kini terpancang di depan sekolah dasar di Gampong Lama Tuha, Kuala Batee, Aceh Barat Daya.

Menurut beberapa warga, prasasti ini awalnya tertimbun pada salah satu benteng (Madat) yang tersebar di kawasan tersebut.

Bupati Aceh Barat Daya, Akmal Ibrahim yang berasal dari Kuala Batee mengatakan, saat kecil dirinya sering mendapati berbagai peninggalan Kerajaan Kuala Batu, seperti uang koin, keramik, hingga peluru meriam.

Saat tim Serambi TV dan Serambinews.com berkunjung ke kawasan ini, awal April 2018, nyaris tidak ada lagi tanda-tanda jika Kerajaan Kuala Batu pernah punya sejarah yang gemilang pada masa lalu.

Hanya ada satu prasasti dan beberapa kawasan Madat (gundukan tanah yang dulunya merupakan benteng pertahanan) tersisa di wilayah yang bersisian dengan Samudera Hindia itu.

Beberapa anak muda yang ditemui di lokasi juga mengaku tidak tahu persis sejarah tentang Kerajaan Kuala Batu maupun pertempuran dengan Angkatan Laut Amerika Serikat.

Mereka hanya tahu bahwa di kawasan-kawasan Madat itu sering ditemukan meriam, uang koin kuno, keramik, dan barang-barang bersejarah lainnya.
Masyarakat setempat juga berharap kepada Pemerintah Indonesia, Aceh, maupun Pemkab Aceh Barat Daya, agar segera mengaspal jalan ke kampung mereka serta merelokasi situs-situs sejarah tersebut, sehingga tidak semakin hilang ditelan zaman.

Narasi Zainal Arifin M Nur

Narator: achyar
Editor: RA Karamullah