Cukup Sudah Para Wanita Aceh Dibisniskan

Senin, 26 Maret 2018 | Dilihat: 1,079 kali

Dalam dua hari terakhir Harian Serambi Indonesia berturut-turut memberitakan tentang terungkapnya praktik prostitusi berbasis online di sebuah hotel berbintang di Jalan Soekarno-Hatta, Aceh Besar.
Bila pada hari pertama yang diberitakan adalah tentang ditangkapnya tujuh wanita dan seorang pria sebagai tersangka germonya, pada hari kedua yang diwartakan adalah fakta bahwa ketujuh wanita penghibur itu ternyata pendatang baru. Mereka belum pernah ditangkap dalam kasus-kasus prostitusi yang sebelumnya terungkap di Aceh.

Hal itu dikatakan Kapolresta Banda Aceh, AKBP Trisno Riyanto SH, pada konferensi pers yang menghadirkan langsung sang germo dan tujuh perempuan yang diduga terlibat praktik prostitusi itu.
Menurutnya, ketujuh wanita muda berparas cantik itu berasal dari Aceh. Ada warga Banda Aceh, Bireuen, Aceh Tengah, bahkan dari Simeulue. Yang lebih mengagetkan lagi, lima dari tujuh wanita itu berstatus mahasiswi. Motivasi mereka menjual diri pun bervariasi, mulai dari ingin menambah penghasilan, ada juga yang supaya bisa tampil lebih modis.

Nah, fakta ini tentu saja tak boleh kita anggap sepele, apalagi dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Terlebih karena kasus serupa juga pernah terungkap pada 22 Oktober 2017 di sebuah hotel berbintang di Jalan Teuku Imuem Luengbata, Banda Aceh. Pada saat itu polisi menciduk Andra Irawan (24) pria yang menjadi germo. Bersama Andra, enam wanita ikut diamankan. Namun, hanya Andra yang diganjar hukuman cambuk 37 kali pada 19 Januari 2018, sedangkan enam wanita yang diduga terlibat prostitusi online tersebut dibebaskan karena dianggap Kapolresta Banda Aceh saat itu sebagai korban.

Kedua fakta ini sangatlah mengejutkan. Apalagi Jumat pekan lalu terungkap ada pasangan suami istri di Meulaboh, Aceh Barat yang menjadikan rumah yang mereka kontrak sebagai sarang prostitusi. Yang mereka umpankan kepada para pria hidung belang adalah tiga remaja putri yang masih di bawah umur dan mereka menerapkan prinsip bagi hasil dalam bisnis haram tersebut.

Sungguh, sekali lagi sungguh, fakta ini membuat kita miris, batin serasa teriris-iris. Bagaimana tidak, di negeri syariat yang mengharamkan mesum atau khalwat, ternyata pelacuran diam-diam berbiak. Tempatnya di hotel-hotel berbintang. Tarifnya pun lumayan. Terendah Rp 800.000, tarif tengah Rp 1,5 juta, dan tarif tinggi di atas Rp 2 juta.

Apa arti semua ini? Sangat banyak artinya bagi kita yang menghargai kesucian dan martabat wanita. Ternyata makin banyak saja wanita Aceh yang menganggap prostitusi sebagai lahan mudah mengeruk rupiah. Ini pergeseran nilai yang dahsyat. Akar masalahnya bisa saja berpunca di rumah, karena pendidikan agama dan karakter tak lagi dianggap penting oleh sebagian orang tua. Tak ada lagi upaya sungguh-sungguh untuk membentengi kawula muda dengan iman dan takwa. Sudah seharusnya semua orang tua di Aceh, khususnya yang punya anak perempuan, tak lagi mengabaikan arti penting pendidikan agama, akidah, dan akhlak bagi generasi muda. Hanya dengan menanamkan iman di dadalah, para mahasiswi-meskipun tinggal jauh dari orang tuanya–mampu menolak ajakan orang lain terjun ke dunia hitam.

Sudah seharusnya pula pemerintah, khususnya aparat keamanan, hadir untuk mengantisipasi bahkan menindak hotel-hotel yang ternyata tak mendukung penerapan syariat Islam di Aceh. Beri peringatan keras sekali lagi, setelah itu cabut izinnya!

Penting juga memperjelas posisi hukum para wanita penghibur itu. Jangan lagi mereka dianggap korban-seperti asumsi Kapolresta Banda Aceh sebelumnya–karena faktanya mereka tak dipaksa melacur malah menikmati uang dari profesinya itu.

Kalau pelaku prostitusi terus-terusan diposisikan sebagai korban, maka pelaku berikutnya tak akan segan-seganmenekuni profesi ini, karena kalaupun tertangkap tangan mereka toh akan dibebaskan, tidak dihukum, apalagi dicambuk. Jangan sampai, ketidaktegasan kita dalam penegakan hukum justru memicu munculnya kasus-kasus serupa di Aceh karena tak ada efek jeranya.

Narator:
Editor: RA Karamullah