Secercah Harapan dari MIS Kala Wih Ilang

Minggu, 23 Juli 2017 | Dilihat: 108 kali

SERAMBITV.COM, TAKENGON – Anak-anak yang terpinggirkan di kawasan pedalaman dataran tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah harus berjuang mendapatkan secercah harapan untuk menggapai impian.

Potret itu terlihat jelas di raut wajah-wajah murid Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Kala Wih Ilang, Kecamatan Pegasing yang berjarak sekitar 31 km dari Ibukota Takengon.
Jam masih menunjukkan pukul 07.00 WIB, kabut tebal tetap menyelimuti perbukitan dan terdengar sayup-sayup hembusan angin yang menambah dinginnya pagi.

Dari kejauhan, tampak bayang-bayang anak-anak yang berjalan menembus pekatnya kabut. Mereka murid-murid MIS Kala Wih Ilang yang harus berjalan melewati rintangan perbukitan terjal untuk mencapai sekolah, tempat mereka menggantungkan manisnya masa depan. Proses belajar mengajar segera dimulai dan para murid itu duduk dengan rapi di ruang kelas berdindingkan papan dan berlantaikan tanah, bahkan ada murid tidak memakai sepatu.

“Selamat datang Pak, sudah jauh-jauh datang kemari, terima kasih sudah menjenguk kami di sini,” kata Sulastri, Kepala Sekolah MIS Kala Wih Ilang saat menyambut kedatangan Serambi pada Sabtu (15/7) pagi. Serambi berkunjung ke sekolah tersebut bersama Kepala Biro Humas dan Protokoler Setda Aceh, Mulyadi Nurdin Lc MH.

Kala Wih Ilang merupakan sebuah desa yang terletak di pedalaman Aceh Tengah dengan waktu tempuh dari pusat Kota Takengon sekitar dua jam dengan kendaraan roda empat. Sebagian badan jalan masih berkalang tanah dan bebatuan yang membelah bukit, sehingga setiap pengendara harus ekstra hati-hati melintasi jalur ini, jika tidak mau jatuh ke jurang.

Di atas perbukitan yang jauh dari pemukiman, sebuah bangunan sekolah dari kayu berdiri tegak. Hanya ada tiga ruangan, yakni dua kelas dan satu ruang dewan guru. Bangunannya seperti tak layak lagi dan Sulastri menyebutkan bangunan sekolah dibangun pada 2013 oleh masyarakat.

“Pada tahun 2013 dibangun satu ruang, kemudian dua ruang lagi pada 2016,” sebutnya. Dia mengakui fasilitas sekolah yang dipimpinnya belum memadai, tetapi proses belajar mengajar harus tetap berjalan dengan harapan seluruh anak-anak Kala Wih Ilang mendapatkan pendidikan dasar.

Dirinya mengaku ikhlas demi terpenuhinya pendidikan anak-anak, meski masih berstatus honorer, dengan gaji sekedarnya. “Suka dukanya banyak, tapi tak usah dicerita lagi. Intinya, saya ingin mengabdi, membantu masyarakat di sini, agar mereka berpendidikan,” katanya.

Sulastri sudah bersama anak-anak didiknya sekitar 4,5 tahun dan harapan mendapatkan fasilitas memadai seperti di perkotaan tampaknya masih jauh dari harapan. Tetapi, pada tahun 2017 ini, doa-doa mereka terjawab, Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemeng) Aceh turun ke lokasi, setelah mendapat kabar tentang bangunan MIS Kala Wih Ilang.

“Alhamdulillah, tahun ini ada dua ruang kelas baru (RKB) yang dibangun oleh Kanwil Kemenag Aceh, dan saat ini sedang proses pembangunan,” ucap Sulastri. Pun demikian, Sulastri masih menggantung secercah harapan untuk para pemimpin di negeri ini.
Dia tetap mengharapkan bantuan untuk pembangunan sekolah dan pemerintah harus memberi perhatian khusus. “Kondisi sekolah ini belum memadai, kami berharap kepada Pak Irwandi, sebagai Gubernur Aceh, agar membantu kami untuk pembangunan beberapa ruang lagi, seperti ruang guru,” harap Sulastri.

Sedangkan Adrianta Syahputra, murid MIS Kala Wih Ilang juga menaruh harapan yang sama. Dia berharap pemerintah memberi perhatian khusus untuk sekolahnya itu. “Pak Guberrnur, mohon sekolah kami dibaguskan, sekolah kami diperluas lagi dan jalan ke sekolah kami juga dibaguskan,” pinta Adrianta.

Adrianta telah merasakan bagaimana sulitnya pergi sekolah setiap pagi. Dia harus berjalan kaki sekitar dua kilometer dari rumahnya. Namun, hal itu sudah biasa baginya, alam sekitar menempa dirinya untuk tetap tegar dan selalu semangat untuk belajar. “Setiap pagi ke sekolah jalan kaki, pulangnya juga begitu,” pungkas murid satu ini yang bercita-cita jadi polisi nantinya.

Ini hanyalah satu dari seratusan sekolah lainnya di kawasan pedalaman Aceh yang terus berjuang mendapatkan jati dirinya. Pemerintah seharusnya hadir mendampingi anak negeri yang juga ingin meraih cita-cita, sama seperti anak-anak di perkotaan. Semoga, impian anak negeri di pedalaman Aceh Tengah itu dapat diraih.(subur dani)

Narator: ARDIANSYAH
Editor: RA Karamullah